facebook ask.fm Youtube Instagram

Dream of Life

  • Home
  • ABOUT
  • CONTACT
Tahun 2019 tinggal menghitung hari dan aku masih stuck ditempat dan situasi yang sama. Tak bergerak, walau bergerak pun selambat dan lebih lambat daripada kura-kura. Bukannya aku tak ingin move away tapi jalan apa yang harus aku lewati. Aku masih bingung.

Aku tidak tahu caranya untuk menceritakan ataupun berbagi. aku mulai bingung dan tersesat di tempat yang sama. "Ruang diam" yang kuciptakan, tanpa jendela ataupun fentilasi, aku terlalu bingung dan cemas membiarkan secercah cahaya matahari mencoba melompat masuk dan menyinari ruanganku ini. Lambat laun aku tersadar bahwa aku tidak terbiasa untuk berbagi cerita dengan orang lain yang notabene bisa saja menjadi cahaya matahari yang akan menyelamatkanku dari ruangan ini. Karena, merasa terlalu cemas dan canggung dengan prespective anybody else about myself, is being too hard to sharing. Aku tahu hal itu tidaklah benar untuk aku jalani. Bertanggungjawab dengan seluruh hidupku adalah hak bagi diriku, meninggalkannya dalam kesunyian adalah kesalahan terbesarku. Dan, sudah sepantasnya aku mengubah cara berpikirku.

Aku tahu jika cara berpikirku terlalu dangkal untuk anak seusiaku (re: 19 tahun) di tahun kedua menjalani hidup sebagai mahasiswi di Universitas Negeri Malang. Pikiranku dan caranya memiih jalan terlalu datar dan tak ada gelombang. Memahami jalanku hanya sebatas zona nyaman ternyata tak membuatku merasa nyaman dan justru menggerogoti bagian lain dari hidupku.

Aku terlalu berbeda, caraku mengartikan dunia terlalu biasa, caraku memandang sebuah object tidaklah menarik. Ketika seseorang seusiaku diperintahkan melukiskan dunianya tentu saja banyak object dan warna-warninya dan terlihat abstrak hingga membuat orang lain terkesima. Berbeda denganku, aku melukiskan duniaku sebatas dua buah gunung yang diatasnya ada awan, matahari, burung-burung yang terbang, di sekitar gunung ada hutan-hutan, jalan yang membatasi pantai dan sebuah rumah yang dimana disampingnya ada sebuah pohon, batu dan juga bunga, serta tak lupa di sisi jalan dekat rumah berdiri tiang listrik hingga mendekati hutan. 
Caraku melukiskan dunia tetap sama mulai dari TK hingga sekarang, dan tak ada yang spesial. Aku hanya mampu melukiskan objek-objek tersebut dan tak bisa berpikir objek yang lain. Caraku melihat dunia terlalu gampang dan tak ada daya imajinasi yang memikat. Dari sudut pandangku melihat dunia tidak terlalu sulit, tetapi terlalu mudah untuk orang lain.

Tak ada arti,
Sajak-sajakku terhenti
imajinasiku tak sejernih biru langit
membiru di angkasa
tulisanku tak seluas air di laut
tak segemuruh petir menyambar
tak ada rasa, terlampau biasa saja
begitu jenaka, 
rintihan hati seorang manusia

Lewat beberapa baris puisi tersebut kau tentu paham arti kebimbanganku. Aku ingin menulis, tapi tak bisa. Namun, hanya lewat tulisan aku bisa memberontak pada diriku, lewat jemari-jemari kuingin mengatakan pada diriku untuk tidak tertekan dan hidup dalam kesunyian lagi.
Aku paham bahwa ketertinggalanku terlampau jauh dan sulit sekali untuk menyusuri jalan-jalan yang sama seperti teman-temanku yang mampu memahami keahlian dan impian mereka.
Aku tak pandai berimajinasi, aku tak mampu memerdekakan tulisanku dari diriku yang menulis hanya ketika sedang mood atau memiliki inspirasi untuk menulis, dan akupun tak begitu mahir dalam seni (menari, menyanyi, dan melukis). Lantas, apa yang harus aku lakukan? apa yang harus aku sesalkan dan salahkan? ketika aku sendiripun tak mampu menemukan bagian hidupku yang tenggelam dalam butiran-butiran pasir pantai.
Orang introvert sepertiku, yang merasa ketakutan dan cemas ketika dikelilingi banyak orang sedang berusaha untuk menggali sebuah tanah, mencari harta karun yang belum tentu ada. Apa bisa?

Gejolak si bodoh,
dia ingin memberontak
tetapi terlalu bodoh untuk memahmi
Gejolak si bodoh,
yang tak mampu bersuara hingga akhirnya dia sadar
dia terlalu bodoh untuk menjalani ini semua

Begitu susahnya menjadi diriku, begitu sulitnya mencari bagian hidupku yang lain. Hidup bagaikan puzzle yang sulit untuk disatukan kembali. Apalagi ketika kepingan-kepingan puzzle yang lain sedang asyik bersembunyi dan dengan rapinya tak menunjukan jalan menemukannya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Assalamualaikum,
Hello friends,

when you trying to be honestly, but everyone can't see that
Menapaki kaki di dunia baru bukanlah hal mudah,  ada saat dimana kalian tidak mampu untuk bertahan. Namun, bersama orang-orang yang terkasihi hal tersebut bisa saja hilang sejenak. Setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang bagaimana cara mereka menanggapi dan menyelesaikannya. 

Smile and you'll get everything
Ada yang berkata "tersenyumlah dan kau akan menaklukan dunia" so simply, right? Jadi, janganlah kau renggut bahagiamu sendiri hanya karena satu atau dua luka yang kau sebabkan. Memang tak mudah berjalan sendiri diantara ribuan persimpangan jalan yang dilalui, tetapi jangan kau jadikan alasan untuk berhenti di persimpangan tersebut. Bukan hal yang tabuh lagi jika diriku atau kalian yang merasa bingung jalan mana yang harus diambil, tapi ingatlah satu hal hati kalian tahu semua karena atas izin Allah SWT. yang membiarkan hati mengetahui segala yang belum tentu pikiran kalian ketahui.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Ini semester kedua gue di universitas, and then it's really hard. Jadi, angkatan gue ngikutin kurikulum baru gitu and benar-benar di luar ekspektasi gue. Memang sewajarnya dan sudah menjadi tugas mahasiswa sendiri untuk mampu mengambil resiko. Mungkin gue adalah satu dari sekian ratus ataupun ribuan mahasiswa di luar sana yang mengalami hal yang sama.

zona nyaman

Kita harus bisa keluar dari zona ini, kita harus berani mengambil resiko. Jangan mau terpaku dengan sesuatu yang mungkin gak cocok untuk kita. Sekarang gue benar-benar sadar menjadi lain dari yang lain tidaklah memiliki kenikmatan tersendiri seperti yang selama ini gue pikirkan. Tetapi, justru membuat persepsi orang ke kita jadi beda.

Gue di kampus mungkin bisa dibilang tidak pandai mengutarakan pendapat, gue cenderung mendengar dan memperhatikan doang. Padahal banyak banget yang ingin gue sampaikan terkait pendapat dan pemikiran gue yang seperti apa. Entah, apapun itu rasanya lidah gue benar-benar kaku banget dan ketika gue ngomong malah gelagapan, bukan cuma itu aja jantung gue jadi dag dig dug gitu. Di semester ini gue gamau seperti itu lagi, gue berusaha untuk bisa keluar dari zona nyaman gue. Terkadang gue bertanya-tanya why i can't do that? why? and why? ternyata jawabannya, ketika kita tidak bisa mempercayai diri kita sendiri bagaimana bisa kita mempercayai orang lain. Ketika kita tidak mampu menatap ke depan bagaimana kita mampu untuk berjalan maju tanpa keraguan. So, jangan ragu dengan apa yang kita miliki tapi ragulah ketika kita tidak mampu mengeksplor apa yang kita miliki.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Hai it's me

Hai it's me

Hello

Hello! it's me Nui. I'm the author behind this blog. I like writting, listening music, cat, and everything makes my feel good and happy.
Hope you enjoy with my weird writtings of my own life.

Labels

  • challenge
  • fashion
  • Food
  • Health Life
  • Life
  • Motivate
  • quotes
  • short story

recent posts

Sponsor

Blogger Babes are Sophisticated Bloggers Seeking Simple Solutions and Support

Blog Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  Desember (1)
      • Being Myself is too hard
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (4)

Created with by BeautyTemplates